Selasa, 04 Juni 2013

Antara Pencari Hiburan dan Penonton Film Indonesia yang Sesungguhnya




Antara Pencari Hiburan dan Penonton Film Indonesia yang Sesungguhnya
Antara Pencari Hiburan dan Penonton Film Indonesia yang Sesungguhnya





"aduh, aduh enaknya.
nonton dua-duaan kayak nyonya dan tuan di gedongan.
petikan lagu 'nonton bioskop' yang dinyanyikan benyamin sueb itu memiliki makna bahwa ke bioskop bukan saja soal 'menonton film'.
ke bioskop bagian dari gaya hidup.
dalam bukunya yang berjudul 'menjegal film indonesia', eric sasono mengatakan bahwa layar lebar, kursi empuk, ruangan sejuk dan popcorn serta minuman soda di tangan menegaskan persoalan gaya hidup.
menonton ke bioskop tersangkut soal moda ekonomi dan bisa menegaskan pertentangan kelas.
bagi si tokoh yang dinyanyikan oleh benyamin, seorang pembantu yang sedang mengajak kencan sesama pembantu, nonton bioskop di jakarta itu 'kayak nyonya dan tuan di gedongan'.
mereka berdua dari golongan bawah, mengkhayalkan betapa menonton film di bioskop adalah sebuah kemewahan yang lazimnya dinikmati kelas sosial di atas mereka.
bioskop saat ini juga kebanyakan berada di mal-mal.
tak sedikit juga orang yang ke bioskop hanya kebetulan sedang jalan-jalan saja, lalu memutuskan untuk menonton, bukan karena memang sudah niat sedari masih di rumah.
"dan ketika mereka ditawari sejumlah pilihan judul film, tentu mereka lebih memilih judul film yang lebih populer.
film indonesia kebanyakan tak populer, karena budget film mereka selalu habis untuk produksi dan menyisakan sedikit saja untuk promosi," ucap pengamat perfilman shandy gasella kepada detikhot.
bagi masyarakat kelas menengah ke atas, mungkin uang rp 35 ribu hingga rp 100 ribu yang dikeluarkan untuk menonton film di bioskop tak terlalu berat dirasakan.
hal berbeda tentunya dialami masyarakat kelas menengah ke bawah.
dengan uang yang 'lumayan', mereka merasa harus mendapatkan tontonan yang paling berkualitas.
oleh karena itu golongan penonton kelas tersebut akan lebih selektif dalam memilih film.
"film itu tak ditonton bisa jadi karena mendapat saingan film yang lumayan berat.
'pintu harmonika' maupun 'optatissimus' yang juga bernasib sama, mendapat saingan film 'fast and furious 6' juga 'star trek: into darkness' yang masih terus menoreh jumlah penonton.
rata-rata penonton bioskop di sini bukan pelahap segala genre film," papar shandy.
lagu, bagaimana dengan film-film seperti 'habibie ainun' yang mampu menjaring jutaan penonton?"sebetulnya 4 juta pasang mata yang menonton habibie ainun itu bukan penonton film indonesia, mereka hanyalah pencari hiburan yang penasaran saja.
saat ada film "hari ini pasti menang" atau "what they don't talk about when they talk about love" yang bagus, mereka tak kembali ke bioskop.
penonton film indonesia yang sesungguhnya adalah mereka yang menonton kedua film ini, atau 'optatissimus' yang baru kemarin juga turun layar," tafsir shandy.
jadi, bagaimana caranya agar film indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri? mungkin itu pertanyaan klise yang sudah sangat membosankan untuk didengar.
tapi, barangkali memang itulah pertanyaan abadinya.

(ich/mmu)
Sumber: hot[dot]detik[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.