Senin, 20 Januari 2014

Kau dan Aku Cinta Indonesia : Ruang Dialog bagi Yang Tak Pernah Terkatakan




 Kau dan Aku Cinta Indonesia : Ruang Dialog bagi Yang Tak Pernah Terkatakan
Kau dan Aku Cinta Indonesia : Ruang Dialog bagi Yang Tak Pernah Terkatakan





bagi anda yang kini berusia di atas 30-an, tentu masih ingat dengan film seri tvri bertajuk 'aci' (aku cinta indonesia) yang ngetop dan jadi tontonan wajib di era 80-an.
sekedar menyegarkan kembali ingatan, judul 'aci' selain berarti 'aku cinta indonesia' juga merupakan singkatan dari tiga tokoh utamanya, amir (agyl syahriar), cici (dyah ekowati utomo), dan ito (ario sagantoro).
mereka digambarkan sebagai para remaja berprestasi dan idola di "smp kota kita".
kini, tiga dekade kemudian, serial tersebut dihidupkan kembali dalam format layar lebar bertajuk 'kau dan aku cinta indonesia', digarap oleh dirmawan hatta yang tahun lalu dua film arahannya, 'optatissimus' dan 'toilet blues', tampil sangat memuaskan secara kualitas, walaupun tak mampu berbuat banyak di box office.
judul film ini barangkali bisa bikin 'ilfil' sebagian calon penonton.
embel-embel "cinta indonesia" mungkin langsung menerbitkan kekhawatiran bahwa film ini, layaknya film dengan tema sejenis, akan jualan "nasionalisme hormat bendera" semata.
tapi, benarkah demikian?kali ini, tak ada lagi remaja bernama amir, cici, dan ito.
kini karakter-karakter tadi mewujud menjadi andi (elang el gibran), cahaya (zulfa maharani putri), dan ian (imam shihab).
satu-satunya benang merah dengan serial aci terdahulu adalah karakter cici (masih diperankan oleh diah ekowati utomo) yang kini tentu saja sudah "tua", dan tak lain adalah ibu dari cahaya.
selebihnya, tentu disesuaikan dengan kekinian, dan juga masih menyoal tentang upaya edukasi melalui bentuk-bentuk budaya massa.
hanya saja dirmawan hatta memiliki cara sendiri yang unik dan khas untuk menyampaikan gagasan-gagasannya melalui film ini.
kisah bermula saat cici mengantar cahaya ke sebuah desa yang terletak di antara dua gunung.
ada sawah menghampar di sisi jalan menuju ke desa itu, persis seperti gambar yang selalu dibuat oleh anak-anak ketika diminta oleh guru di kelas untuk menggambar pemandangan.
ya, film ini membuktikan bahwa gambar pemandangan itu ternyata memang benar-benar ada.
dan, di sanalah nenek cahaya tinggal seorang diri.
cici yang merupakan orangtua tunggal bagi cahaya hendak pindah ke luar negeri demi karier.
ia berharap cahaya dapat tinggal sementara waktu dengan neneknya sambil lebih memahami negerinya sendiri sebelum suatu hari nanti dijemput kembali.
cahaya pun pergi ke sekolah di desa itu, tempat ia bertemu dengan andi dan ian, serta teman-teman baru lainnya, juga pak guru jay (jay wijayanto) yang menarik.
kedatangan cahaya dan pertemuannya dengan orang-orang baru itu kemudian mengubah keseharian dan kehidupan masing-masing.
  next »




halaman
12


next »



(mmu/mmu)
Sumber: hot[dot]detik[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.