| Tak Semua Penulis Puas Mengirim Naskah Ke Penerbit Mandiri |
kapok.
itulah yang ada di benak deti mega purnamasari tentang penerbit buku mandiri, atau dikenal indie publishing.
pasalnya, dia punya pengalaman buruk dengan salah satu penerbit tersebut.
cerita bermula dari keinginan wanita 24 tahun itu memiliki karya buku sendiri pada 2012 lalu.
terlebih, genre yang ditulis masih langka, yaitu fan fiction korea.
dia memilih penerbit buku mandiri lantaran kesulitan menembus penerbit besar.
naskahnya hampir selalu dikembalikan dengan alasan tidak memenuhi syarat perusahaan.
modal yang dikeluarkan deti terbilang sedikit.
hal itu lantaran penerbit tidak mematok minimum eksemplar, melainkan lewat sistem order by request.
dia merogoh rp 250 ribu untuk desain cover yang dibuat temannya.
sementara ongkos ke penerbit hanya sebesar harga jual buku rp 46.
500.
"sebenarnya mereka cuma bantu nyetakin jadi buku doang.
karena tulisan kita sama sekali enggak diedit bahkan jenis hurufnya juga enggak diubah sesuai file kita.
aku sendiri sedikit kecewa dengan hasil cetakan bukunya karena enggak ada proses editing itu," katanya kepada detikhot, akhir pekan lalu.
puncak kekecewaan terjadi manakala royalti sebagai penulis tidak diperoleh sama sekali.
baik buku yang dicetak sendiri maupun naskah pemenang lomba yang diadakan pihak penerbit.
next »
halaman
12
next »
(fip/utw)
Sumber: hot[dot]detik[dot]com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.