Rabu, 28 Mei 2014

Museum dan Orang-orang Gila (1)




Museum dan Orang-orang  Gila  (1)
Museum dan Orang-orang Gila (1)





dari sekitar 300 museum di tanah air, 15 persen di antaranya adalah milik pribadi atau kalangan swasta.
mereka tidak semuanya termasuk yang kelebihan uang, tapi rela merogoh kocek pribadi hingga miliaran rupiah tanpa berharap keuntungan.
hanya satu komitmen yang menjadi pegangan; ingin memuliakan kebudayaan.
tak cuma mengelontorkan banyak dana, sesekali teror yang mengancam jiwa pun harus dihadapi.
“kalau memikirkan keuntungan ya tak akan pernah ada museum,” kata dwi cahyono, 48 tahun, pendiri museum malang tempo doeloe saat menjadi pembicara pada pertemuan nasional museum seluruh indonesia di tanjung pinang, kepulauan riau, kamis lalu.
“kalau ada yang menyebut kami ini orang gila ya diterima saja dengan ikhlas,” timpal udaya halim, 61, pendiri museum benteng heritage, dan rahmat shah pendiri international wildlife museum & gallery di medan.
ketiganya berbagi pengalaman dalam mengelola museum yang menarik dan diminati pengunjung.
berikut ini sekelumit kisah mereka.
***dwi cahyono: berburu koleksi hingga ke belanda tak cuma rekan-rekannya sesama pengusaha, semula kedua orang tua dan isterinya pun menentang aktivitas dwi cahyono.
ia dianggap gila karena menghambur-hamburkan uang hasil bisnisnya untuk membangun dan mengelola museum.
“tapi karena saya serius menekuni ini, mereka akhirnya menyokong upaya saya,” kata saat berbincang dengan detikhot saat rehat acara pertemuan nasional museum seluruh indonesia.
setelah bertahun-tahun mengumpulkan benda-benda yang terkait dengan sejarah kota malang, baru pada 2012 ia resmi mendirikan museum malang tempo doeloe.
di hadapan para peserta, ia menuturkan dirinya mulai merancang museum sejak juni 1997.
  next »




halaman
12


next »



(alx/ich)
Sumber: hot[dot]detik[dot]com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.