Jumat, 25 Januari 2013

Di Balik Frekuensi : Kuasa Media dan Pengkhianatan-pengkhianatannya




 Di Balik Frekuensi : Kuasa Media dan Pengkhianatan-pengkhianatannya
Di Balik Frekuensi : Kuasa Media dan Pengkhianatan-pengkhianatannya





masih ingat dengan aksi sensasional hari suwandi, korban lumpur lapindo yang berjalan kaki dari sidoarjo ke jakarta untuk mencari keadilan? masih ingat betapa simpati masyarakat di sepanjang jalan yang dilalui hari, berujung pada antiklimaks ketika yang bersangkutan begitu sampai di jakarta mendadak muncul di layar tv one, nangis-nangis menyesali aksinya dan minta maaf kepada keluarga aburizal bakri?kita tahu, aburizal bakri adalah nama di balik perusahaanp-perusahaan yang menaungi baik pt lapindo maupun tv one. apa yang terjadi di balik perubahan sikap drastis hari yang sebelumnya begitu heroik? bersama dengan kasus pemecatan seorang wartawan metro tv bernama luviana, sutradara film dokumenter ucu agustin menyusun kembali 'perjuangan' hari suwandi, membingkainya dengan konteks, data dan analisis, untuk kemudian mempersembahkannya menjadi sebuah film berjudul 'di balik frekuensi'.di tangan ucu, yang sebelumnya telah melahirkan film-film dokumenter kritis seperti 'konspirasi hening' yang membongkar praktik-praktik tak terpuji di dunia medis, kasus hari (vs bakri dan tv one) dan luviana (vs metro tv dan surya paloh) bisa menjadi pintu masuk untuk menyingkap dampak konglomerasi media di indonesia. dalam hal ini, ucu memang fokus pada televisi, khususnya tv one dan metro tv sebagai statiun tv berita nasional, yang menggunakan frekuensi (milik) publik.film ini menguji, bagaimana reformasi politik di indonesia yang melahirkan kebebasan, berpengaruh pada industri media. dan, bagaimana pada gilirannya media-media yang dimiliki oleh segelintir orang itu kemudian berkembang, membentuk grup-grup dan dikuasai oleh individu-individu yang berambisi politik. akibatnya, tak hanya seperti yang kita lihat bersama, betapa televisi menjadi corong kepentingan pribadi pemiliknya, melainkan ada dampak-dampak sosial lain yang tak terduga.sampai di sini jelas, 'di balik frekuensi' memang sebuah film yang dimaksudkan sebagai 'kampanye' penyadaran publik. "ini memang film for activism," ujar ucu usai pemutaran perdana filmnya di blitz megaplex grand indonesia, jakarta, kamis (24/1/2013) malam. dan, ucu sadar benar bahwa film seperti ini mudah terjatuh ke dalam teriakan-teriakan jargon perlawanan yang kaku dan membosankan. "sebagai film dokumenter berbasis isu, saya berjuang mencari bahasa visual agar nggak garing, memakai apa saja yang bisa dipakai," tuturnya. memakai apa saja yang bisa dipakai, artinya ucu memanfaatkan sumber-sumber yang ada, memadukan antara footage, wawancara, rekonstruksi, grafis, hingga dramatisasi adegan dan narasi, yang diperkuat dengan ilustrasi musik yang pas dan editing yang ciamik. hasilnya, sebuah dokumentasi sepanjang dua jam yang hidup, dinamis, kuat dan mengesankan.momen-momen spektakuler muncul, misalnya ketika ucu berhasil mencegat aburizal bakrie usai deklarasi pencalonan dirinya sebagai presiden, atau ketika luviana dan para pendukungnya akhirnya berhasil ketemu dengan surya paloh. mengalir bergantian, dua "alur cerita" itu kemudian bertemu di satu titik, menghasilkan kontras-kontras dan ironi-ironi yang gamblang dan mencengangkan. membuat kita seperti sedang menyaksikan film petualangan detektif yang mendebarkan, mengaduk emosi.dengan kegigihan dan kejelian seorang peneliti, dan 'kenakalan' seorang aktivis, ucu tak hanya menelusuri ruang-ruang tersembunyi perselingkuhan antara media dan politik. ia juga berhasil membuktikan betapa ambisi-ambisi (politik) pribadi pemilik media mau tak mau mendekte gerak, dan "mendefinisikan kembali" idealisme, para reporter di lapangan. tak kalah menggelitik, bagaimana ketangkasan penyutingan gambar membuat kita geleng-geleng kepala, bagaimana tv one dan metro tv bersaing demi "membela" dan "melindungi" (kepentingan) bos masing-masing lewat pengemasan berita pada isu-isu tertentu. tak pelak, dokumenter ini sebuah langkah berani yang di satu sisi membuka mata dan mencerahkan pemahaman publik, di sisi lain boleh jadi membuat merah telinga para penguasa media massa. dengan jernih dan argumentatif, film ini menelanjangi pengkhianatan-pengkhianatan para cokung yang memanfaatkan frekuensi publik untuk kepentingan politiknya. karya semacam ini mestinya lahir dari para sarjana komunikasi dan akademisi bidang media. bahwa ini ternyata lahir dari seorang filmmaker, masyarakat jadi mendapat keuntungan ganda: tak hanya sebuah karya kreatif yang bagus, tapi juga reportase yang penting dan berharga. tak ada kata lain kecuali terima kasih kepada ucu agustin. setelah peluncurannya di blitz yang hanya bisa disaksikan secara terbatas, film ini akan berkeliling ke berbagai kota, menyambangi kampus-kampus dan komunitas-komunitas. tunggu saja.
(mmu/mmu)
sumber: hot.detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.